KERJA SAMA ANTAR HARAKAH ISLAMIYAH

25 Jan

kerja sama Dalam kancah dakwah Islamiyah, agenda amal jama’i (kerja sama), semestinya tak hanya bergerak dan berputar pada aktivitas internal sebuah jama’ah (mikro) semata, namun harus mengakses keluar menjadi kerja sama antar gerakan Islam (harakah islamiyah) dan bersifat internasional (makro). Hal ini untuk mewujudkan Islam sebagai rahmat alam semesta.

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’ : 28)

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiya’: 107)

Dakwah Islamiyah tidak hanya dipandang sebagai harakah ataupun jama’ah minal muslimin saja, yang mana dengan sifat tersebut hanya bisa dirasakan greget dan keberadaannya oleh para harakiyun (aktifis-aktifisnya), namun dakwah harus mampu menjadi milik seluruh kaum muslimin di segenap lapisan di manapun berada bahkan harus mampu menjadi tumpuan harapan seluruh manusia.

Dengan hal itu tema-tema tentang Islam sebagai rahmat alam semesta, syumuliyatul Islam (totalitas ajaran Islam), bukan hanya slogan dan utopia. Dakwah Islamiyah harus terkoordinir dalam amal jama’i yang bersifat antar harakah dakwah, yaitu jalinan kerja sama pada tingkat makro, lintas organisasi massa Islam, antar lembaga-lembaga Islam, lintas madzhab, dan sebagainya di seluruh dunia untuk besatu padu, bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati serta toleransi terhadap perbedaan-perbedaan, menuju kepada samudra kesatuan umat Islam.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.“ (Ash Shaff: 4)

Dalam ayat tersebut, sesungguhnya kata “bunyanun marshush” atau bangunan yang tersusun kokoh, tidaklah sekedar perumpamaan yang tanpa maksud, ia mengandung makna yang jelas yaitu suatu keutuhan bangunan yang di dalamnya terdiri dari berbagai elemen yang diibaratkan seperti semen, batu bata, batu kapur, air dan sebagainya yang sangat kental dengan perbedaan sifat dan bentuknya namun untuk tujuan yang sama mereka mampu diatur membentuk satu ikatan yang kokoh.

Semestinya kaum muslimin yang sekarang masih terkotak-kotak dalam jama’ah dan madzhab mereka masing-masing harus saling bekerja sama bahu membahu mewujudkan firman Allah SWT.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At Taubah: 71)

Ayat tersebut tidak membatasi kepada jama’ah, organisasi atau madzhab tertentu saja. Karena “ba’dhluhum auliya’u ba’dl” adalah aktifitas mukminin dan mukminah di mana saja mereka berada. Amal jama’i makro bertujuan membuat amal Islami berbagai kelompok, jama’ah, lembaga, organisasi massa menjadi sinergis. Peran dan keberadaan mereka menjadi ordinat yang bertemu dengan absisnya dan terjalinlah koordinasi dalam sebuah kawasan luas dakwah islamiyah.

Jika dilihat ragam gerakan dakwah, mereka telah bekerja pada kapasitasnya masing-masing dan kadangkala bergesekan dengan saudara pergerakan dakwah yang lain. Keanekaragaman gerakan dakwah tersebut terjadi karena mereka dalam memahami syari’at tentang dakwah ada yang mengedepankan atsar, ada yang mengedepankan teks, ada yang mengedepankan qiyas, ada yang mempertimbangkan kemaslahatan, fiqh aulawiyat (skala prioritas), dan sebagainya yang semua pertimbangan akan hal itu membentuk gerakan dakwah mukhtalifun alwanuh (beragam warnanya).

Semua ibarat madu yang dikeluarkan oleh lebah-lebah yang telah mengambil beragam jenis makanan dari berbagai jenis tumbuhan, namun dampaknya tidak berbahaya, bahkan justru menghasilkan obat yang bermanfaat. Amal jama’i makro harus mampu mengakomodir keberadaan dan peran mereka sehingga menjadi bermanfaat terhadap umat dan bukannya sebaliknya.

Mensikapi gagasan tersebut tidak boleh dengan pikiran “mission impossible” sebab setan akan “mengamini”nya, namun dengan “laa haula wa laa quwwata illa billah.” Sehingga akal sehat masih beripikir realistis serta optimis bahwa daya dan kekuatan tersebut adalah milik Allah swt.

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Anfaal: 63)

Sebagai ikhtiar manusiawi upaya yang paling awal diperlukan adalah do’a kepada Allah swt, kemudian menjalin ikatan hati dengan para pemimpin gerakan dakwah tersebut. Dengan do’a selain akan mendekatkan kita dengan Allah swt juga akan membersihkan niat dan tujuan.

Di antara keanekaragaman gerakan dakwah tersebut adalah:

  • Kalangan yang menempuh jalan shufi yang berangkat dari sikap zuhud, ibadah, tazkiyatun nafs, shidiq dan ikhlas. Aliran tashawuf terbagi dua: Pertama, tashawuf ahli ilmu dan Istiqomah. Kedua, tashawuf filsafat, bid’ah dan zindiq. Jenis yang kedua inilah yang sesat.
  • Jama’ah yang menekankan dan senantiasa mencari keutamaan-keutamaan amal
  • Organisasi massa Islam yang bergerak di bidang-bidang sosial, pendidikan, rumah sakit, pemeliharaan anak-anak yatim piatu, daerah-daerah miskin yang rentan dengan aktifitas pemurtadan.
  • Sekelompok orang yang berkonsentrasi kepada pembangunan masjid-masjid, tanah-tanah wakaf, zakat.
  • Kalangan yang memfokuskan aktifitasnya kepada masalah-masalah yang berkaitan dengan aqidah tauhid dan menekankan kebersihan seorang muslim akan hal tersebut dan mendorongnya ke dalam upaya-upaya pembersihan dari kekeruhan aqidah tauhid. Merekapun memberikan perhatiannya terhadap kehidupan asli para sahabat dan generasinya juga mempelajari hadits-hadits Rasulullah saw.
  • Gerakan dakwah yang perhatian sepenuhnya ditujukan kepada jihad di jalan Allah kemudian mereka menghadapi para musuh dengan kekuatan.
  • Organisasi massa Islam yang menekankan pendidikan pada ma’ahid/pondok-pondok pesantren sebagai upaya peningkatan ilmu-ilmu umum maupun tafaqquh fiddin.
  • Organisasi massa Islam yang metode dakwahnya adalah politis namun menghindari jalur resmi politik. Mereka berjuang keras mendirikan pemerintahan Islam dan penyebaran opini khilafah Islamiyah, dan juga opini anti imperialisme terhadap dunia Islam.
  • Sekelompok orang yang memfokuskan dakwahnya kepada pemberantasan kemaksiyatan seperti judi, minuman keras, prostitusi, dan lain-lain.
  • Sekelompok orang yang melakukan amal-amal khairiyah, atau bakti sosial, melakukan penelitian dan pengembangan, pelatihan-pelatihan peningkatan sumber daya umat Islam. Aktifitas mereka kadangkala seperti biro jasa amal-amal Islami tersebut. Para pengurusnya adalah orang-orang yang terpanggil hati sanubarinya untuk mengentaskan kaum muslimin dari keterpurukan.
  • Segolongan kaum muslimin yang membentuk ikatan-ikatan dan bergerak di bidang sains dan ilmu pengetahuan di dunia akademik maupun non akademik.
  • Kalangan kaum muslimin yang mampu di bidang ekonomi dan bergerak dengannya kemudian membentuk jaringan-jaringan.
  • Ikatan para aktivis dakwah profesi dalam bidang hukum
  • Gerakan dakwah yang menghimpun potensi para syabab (pemuda), kemudian membekali mereka dengan ilmu-ilmu dinul Islam. Jaringan mereka sudah sampai pada tingkat internasional.
  • Bahkan ada jama’ah dakwah yang sudah include ke dalam partai politik suatu negara, sehingga keberadaannya menjadi formal dan legal.
  • Dan sebagainya

Kadang-kadang sebagian dari mereka telah menempuh jalan yang salah akibat ijtihad mereka dan sebagian yang lain telah menempuh jalan yang benar. Keberadaan gerakan dakwah tersebut merupakan asset kaum muslimin yang tidak patut untuk disia-siakan.

Menyatukan keanekaragaman tersebut membutuhkan kecerdasan manajerial dan keseriusan. Selain itu butuh motivasi para pemimpin berbagai jama’ah untuk bersedia melakukan koordinasi. Langkah berikutnya membentuk kesepahaman dan sedapat mungkin menyatukan sikap sebagai prolog bagi kesatuan perkumpulan mereka. Sudah semestinya segala tenaga dan pikiran dicurahkan untuk menggerakkan mereka dalam satu kesatuan cita-cita.

Adalah Asy Asyahid Hasan Al Banna, yang mencita-citakan kesatuan gerakan dakwah tersebut dengan kalimat beliau dalam muktamar ke enam[1]. Pada muktamar kelima berorientasi ke internal, sedangkan muktamar ke enam tersebut berorientasi ke luar.  Adapun obsesi beliau adalah: “Allah swt telah menunjuki kita khitthah yang ideal, di saat kita mencari kebenaran di dalam uslub yang lunak, yang menenangkan hati dan menentramkan pikiran. Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa nanti akan datang suatu hari dimana semua gelar-gelar formal, sebutan, perbedaan bentuk dan hambatan pandangan akan hilang. Sehingga terciptalah kesatuan operasional yang seluruh barisan tentara Muhammad terhimpun di dalamnya. Tidak ada lagi polarisasi dan pengkotak-kotakan atas umat, semuanya menjadi Muslimin yang bersaudara.”

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al Maidah: 56)

Sebenarnya diakui atau tidak telah terdapat beberapa friksi di antara beberapa gerakan dakwah. Baik conflict of interest -menyangkut kepentingan- maupun berkaitan dengan beberapa perbedaan pandangan dalam dakwah. Bahkan tak jarang muncul pula kebanggaan atas kelompoknya dengan merendahkan kelompok yang lain. Sehingga hal ini mengganggu keharmonisan dalam kancah dakwah Islamiyah atau bahkan fitnah di tengah-tengah umat. Mungkin inilah yang disindir oleh Allah swt dalam firmanNya:

Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar Ruum:32)

“Permusuhan” seperti ini akan lenyap manakala mereka telah menemukan agenda besar mereka serta kesatuan cita-cita besar bersama.

Orang mu’min adalah jalinan yang dijalin, dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mau menjalin tidak mau dijalin” (HR Ahmad, Thabrani dan al Hakim)

Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah saw: “Ruh-ruh itu ibarat tentara-tentara yang terkoordinasi; yang saling mengenal niscaya bersatu, sedangkan yang tidak saling mengenal niscaya berpisah”. (HR Muslim)

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

Islam adalah agama fitrah telah gamblang berbicara tentang kesatuan umat. Maka menganggap bahwa umat Islam –juga gerakan dakwah Islam- tak mungkin bersatu, adalah keliru.


[1] Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna (Solo, Era Intermedia, 2000)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: