Jauhilah Kibr

1 Feb

monyet1Kibr yaitu sombong atau tinggi hati semestinya dijauhi karena hal ini merupakan salah satu dari penyakit kejiwaan manusia. Di antara gejalanya adalah kuatnya perasaan bahwa dirinya merasa lebih mulia, lebih berwibawa, lebih hebat dari orang lain sehingga dengan itu muncul sikap dan perilaku merendahkan pihak lain. Dalam tata hubungan sosial berimplikasi pada hilangnya etika, tak ada trust (saling percaya) dan rusaknya harmonisasi terhadap sesama.

Perasaan lebih mulia, lebih tinggi ilmu atau kedudukannya, lebih banyak amalnya, lebih senior dan sebagainya tak jarang melahirkan arogansi dan perilaku buruk.

“Jika kalian mendengar seseorang berkata, “semua orang rusak”, maka dialah orang yang paling rusak”. (HR Muslim)

“Cukuplah keburukan seseorang, karena ia menghina saudaranya sesama muslim”. (HR Abu Daud)

Fenomena kibr merupakan bentuk dari kelemahan jiwa seseorang dan lebih jauh lagi adalah sebuah ironi dan tregedi kejiwaan. Bagaimana tidak, ia telah menempatkan dirinya pada sikap dan perilaku yang direndahkan (tidak dihormati), tidak disukai dan dihindari oleh pihak lain, sementara dirinya merasa mulia. Dalam interaksi sosialnya ia banyak diliputi oleh basa-basi  dan manipulasi orang lain.

Dalam pandangan akhlaqul karimah perilaku kibr amat dicela. Ajaran Islam sangat jelas bahwa sifat, sikap dan perilaku kibr tidak memiliki tempat di dalamnya. Sebab segala kekuatan hanyalah milik Allah swt, segala ilmu semuanya berasal dari-Nya diberikan sedikit kepada hamba-Nya untuk menjaga agama-Nya dan diperintahkan untuk mengajarkan kepada sesama, sehingga ilmu itu menghantarkan kepada Tuhannya, dan tumbuhlah sikap tunduk serta rasa takut kepada-Nya.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (Fathir: 28)

Seseorang berbangga diri serta merasa tinggi kedudukannya lantaran amal-amal dan aktivitas ibadahnya yang banyak adalah tercela. Karena seharusnya ketinggian keimanan itu semakin menundukkan dirinya dan melahirkan sikap rendah hati terhadap mukminin (adzillatin ‘alal-mu’minin).  Demikian pula jabatan, kehormatan, harta dan kekayaanpun tak berbeda kedudukannya. Nabi Muhammad saw yang memiliki kedudukan tertinggipun telah diperintahkan untuk merendahkan hati.

“dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (Asy-Syu’ara: 215)

Tawadlu’-nya membuat beliau tidak suka dipuja-puja banyak orang, meskipun para sahabat amat cinta kepada beliau, namun mereka tidak pernah berdiri menyambut kedatangan Rasulullah saw, karena mereka tahu bahwa hal tersebut tidak disenangi Nabi saw.

Lihat pula seorang sahabat Nabi saw, Abdur-Rahman bin Auf yang disegani di kalangan kaumnya. Hartanya melimpah ruah, namun kekayaan dan kehormatan tersebut tidak membuatnya tinggi hati. Abdur-Rahman bin Auf bahkan sulit dibedakan dengan pelayannya, karena memang tidak nampak perbedan mereka dalam bentuk lahiriyah.

Kehebatan Imam Hasan Al Basri dalam ilmu agama tidak memperdaya beliau menjadi kibr di hadapan lainnya. Suatu saat beliau berjalan dengan beberapa orang, dan orang-orang yang bersamanya berjalan di belakang untuk menghormati beliau. Melihat hal itu beliau tidak senang dan mencegah perbuatan itu.

Sufyan Ats-Tsauri adalah seorang tabi’in yang memiliki nama besar karena ilmu agamanya, suatu saat datang mengunjungi Ramallah di Palestina. Saat itu Ibrahim bin Adham mengutus seseorang kepada Sufyan Ats-Tsauri agar bersedia bersinggah ke rumahnya hanya untuk berbincang-bincang. Atas perbuatan itu, Ibrahim bin Adham sempat ditegur seseorang, karena dianggap merendahkan kehormatan Sufyan Ats-Tsauri. Namun ternyata di balik ketenaran nama besarnya Sufyan Ats-Tsauri tak melepaskan pakaian tawadlu’nya, maka ia pun bersedia mampir ke rumah Ibrahim bin Adham. Kedudukannya tidak dijadikan sebagai alat untuk berbangga diri atau kibr.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz suatu saat tatkala sedang menulis kedatangan tamu. Saat itu lampu padam lantaran terjatuh, sang tamu berkata, “Biarkan aku saja yang memperbaikinya”. Namun Umar bin Abdul Aziz berkata, “Tidak mulia seseorang yang menjadikan tamunya sebagai pelayan”. Sehingga tamu itu menunggu sejenak sambil menonton sang Khalifah memperbaiki lampu sampai bisa menyala kembali. Itulah Umar bin Abdul Aziz, Amirul-mukminin pemimpin umat Islam yang tawadlu’.

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Al Isra: 37)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: