Tiga Tipologi Manusia

14 Feb

tiga jalanAllah swt berfirman: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Adz-Dzaariyat: 56). Inilah ayat yang menjadi muara bagi seluruh amal perbuatan manusia sejak awal hingga akhir hayatnya. Segala kegiatan dan pekerjaan yang tidak bernilai ibadah atau pengabdian kepada Allah swt tak akan mendapatkan penghargaan sama sekali di hadapan-Nya, bahkan bisa jadi malah mendapati kemurkaan-Nya.

Adapun fenomena manusia, mengalami variasi dan dinamika dalam hal pengabdiannya kepada Tuhannya. Dalam hal ini ada dua unsur yang mempengaruhi yaitu hati dan nafsunya (hawa). Jika hati atau ruhnya yang mendominasi maka jiwanya akan tenang menyambut seruan-Nya. Namun jika nafsunya yang dominan, maka hati atau ruhnya menjadi layu terbakar hawa nafsu. Sedangkan jika hati dan nafsunya setara atau sejajar, maka akan memunculkan sifat dan perilaku yang fluktuatif dan amat tergantung dengan lingkungannya, kadang mengalir bersama kebaikan dan kadangkala hanyut dalam keburukan.

Paling tidak terdapat tiga golongan manusia yang telah disitir di dalam Al Qur’an terkait dengan kewajiban terhadap Tuhannya. Golongan tersebut adalah:

1. Golongan Pencari Keridhaan Tuhannya

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. (Al Baqarah: 207)

Golongan ini selalu cermat, waspada atau hati-hati dalam aktivitasnya. Tipologi manusia ini selalu ada upaya untuk memilih amal perbuatan yang bertanggungjawab utamanya kepada Tuhannya, dan baginya setiap perbuatan itu selalu ada opsi lalu dipilihnya yang terbaik. Jika suatu saat bertabrakan dengan kesulitan dan disudutkan dengan opsi yang memaksakannya, maka ia akan memilih mana yang paling sedikit mudharatnya. Ia tidak akan mudah pasrah dengan keadaan apalagi hanya dengan iming-iming menggiurkan kemudian besedia melakukan perbuatan melawan Tuhannya dengan dalih terpaksa, tidak! Berkorban, adalah suatu keniscayaan dan merupakan bagian dari setiap agendanya, sejak ia membuka mata hingga menutupnya. Golongan ini suka mengedepankan perilaku mulia, bertanggungjawab di hadapan manusia maupun Tuhannya, dan inilah tipologi manusia yang memiliki idealisme tinggi.

2. Golongan Pencari Keuntungan Duniawi

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”. (Al Hajj: 11)

Golongan kedua ini beramal pada kurun waktu tertentu, namun tatkala mendapati kerugian atau ujian dalam ibadah kepada-Nya, maka dengan segera ia mengeluhkannya dan jiwanya diliputi oleh kegelisahan. Pada keadaan tersebut setan meniup-niupkan keraguan dalam hatinya dan membersitkan pembangkangan untuk meninggalkan-Nya. Tak jarang ia pun meng-“hisab” (menghitung-hitung) diri, bukan untuk tazkiyatunnafs (pembersihan jiwa) namun justru keluh kesah betapa selama ini ibadahnya tak menguntungkannya. Kadangkala disertai pikiran sempit untuk menagih janji Tuhannya, bahwa katanya Tuhan akan memberi barokah kepada hamba yang beribadah kepada-Nya, namun ia menolak ujian dari-Nya.

Inilah golongan manusia yang sesungguhnya rentan terjerumus ke dalam oportunisme, lantaran semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri tanpa memahami dan berpegang pada prinsip.

3. Golongan Menutup Diri

“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka”. (Muhammad:12)

Bolehlah direnungkan bahwa makna kafir itu sepadan dengan kata “cover” yang berarti menutup. Dalam bahasa agama orang kafir itu adalah orang yang menutup diri dari petunjuk Tuhannya. Orang kafir itu tidak meyakini akan balasan sebuah perbuatan, mereka tidak meyakini janji dan ancaman Tuhan, tidak percaya hari akhirat, surga dan neraka kecuali hanya untuk gurauan saja. Selanjutnya bisa dibayangkan tatkala orang-orang kafir tidak mengimani perkara-perkara penting tersebut, maka pasti mereka akan membuat surga sendiri di masa hidupnya di dunia untuk bersenang-senang, makan-makan layaknya di surga. Seluruh sumber daya diupayakan hanya untuk dua hal itu di dunia ini, yaitu agar bisa bersenang-senang dan makan-makan, serta seluruh tenaga dan pikiran ditujukan untuk melindungi mereka agar tak ada gangguan terhadapnya, dengan undang-undang mereka dan dengan tata dunia mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: