ETIKA JAMA’AH DAKWAH (1)

21 Feb

jalan tengahMengikuti Manhaj Pertengahan

Manhaj “pertengahan” merupakan cerminan ummat Islam yang mengedepankan sikap tawazun (keseimbangan) dan keadilan. Sikap tersebut berada di antara sikap berlebihan dan kurang memperdulikan. Dengan mengikuti manhaj pertengahan akan lebih mendekatkan ummat Islam kepada jama’ah, sehingga misi dakwah mencakup lebih luas. Hal ini dikarenakan sikap berlebihan dalam agama hanya akan menjadi perkumpulan orang-orang yang ingin memuaskan kecenderungan-kecenderungannya dalam menjalankan syari’at Islam. Padahal tidak semua orang selalu sama dalam hal tersebut. Begitu pula dengan sikap kurang perduli terhadap satu masalah dalam syari’at akan menelantarkan kaum muslim terhadap ajarannya. Kedua hal tersebut hanya akan menjauhkan umat Islam dengan ajarannya sendiri.

Syaikh Qardhawi berpendapat bahwa pertengahan merupakan pusat orbit yang merupakan tempat kembali bagi pihak-pihak yang telah jauh menyimpang ke kiri dan ke kanan. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sikap pertengahan. Dengan sikap ini orang yang tertinggal harus menyusul dan orang-orang yang berlebihan harus kembali mundur”.[1]

Sifat ajaran Islam jika diterapkan akan mempersaudarakan umat Islam, bukan malah menjauhkan mereka. Karena ia berdiri di atas keadilan dan persaudaraan manusia. Ia juga melindungi jiwa, kehormatan, harta, kebebasan pikiran, agama dan akhlaq.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maidah: 8)

Dalam shalat ketika membaca Al Fatihah, yaitu “ihdinash shiraathal mustaqiim” (Tunjukilah kami jalan yang lurus), menunjukkan bahwa ada banyak jalan bengkok yang akan ditemui untuk membelokkan kaum muslimin dari petunjukNya. Jalan yang lurus adalah yang menyatukan, yaitu pertengahan antara berlebihan dengan sikap tidak memperdulikan. Jalan lurus berarti jalan Allah swt, bukan seruan manusia dan jin, bukan system Barat ataupun Timur, tidak condong ke kanan ataupun ke kiri.

“Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.” Al An’am: 126)

“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al An’am: 153)

Ibnu Mas’ud berkata: “Rasulullah saw membuat satu garis lurus dengan tangannya kemudian bersabda, “Ini adalah jalan Allah yang lurus”, kemudian membuat jalan di sebelah kanan dan kirinya seraya bersabda,  “Setiap jalan dari jalan-jalan ini terdapat setan yang mengajak kepadanya”, kemudian Nabi saw membaca ayat, “Ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan yang lain”. (HR Ahmad)


[1] Dalam bukunya “Gerakan Islam, Antara Perbedaan Yang Diperbolehkan Dan Perpecahan Yang Dilarang (Fiqh Ikhtilaf)”, (Jakarta, Robbani Press, 1993) hal. 95

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: