ETIKA JAMA’AH DAKWAH (2)

28 Feb

kerja samaJAMA’AH DAKWAH YANG SYUMUL BUKAN JAMA’AH DARWIS

Jama’ah darwis yang dimaksud adalah jama’ah yang wawasan ibadahnya dibatasi dalam lingkup yang sempit. Aktivitasnya hanya menekankan pada shalat, puasa, dzikir atau membaca tasbih saja atau aspek ritual seperti shalawat, sedekahan, mengagungkan hari-hari tertentu ataupun hanya larut dengan kajian-kajian pada bagian yang sempit dari luasnya ilmu-ilmu agama. Perilaku semacam ini tak pernah dikenal dalam kehidupan generasi pertama Islam (salafush shalih).

Rasulullah saw telah meninggalkan ajaran yang lengkap untuk diterapkan dan menjadi solusi dalam kehidupan manusia. Islam tak merestui sektarianisme baik dalam pemahaman maupun gerakan, sekalipun dikemas dengan bahasa Arab.

Jama’ah darwis hanya akan meninggalkan bagian tertentu dari ajaran Islam dan akan berakibat pada kerugian bagi citra Islam serta kerugian untuk dakwah, karena terkungkung ke dalam aktivitas internalnya.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 208)

Islam kaffah bukan dalam julukan namun lebih kepada pemahaman dan manhaj. Karena setiap muslim harus meyakini bahwa Islam adalah sistem yang menyeluruh yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tanah air dan kebangsaan, pemerintahan dan umat, akhlaq dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, keprajuritan dan idiologi.

JAMA’AH PEMBANGUN UKHUWWAH ISLAMIYAH

Sesungguhnya orang-orang beriman itu berukhuwah (bersaudara)”(QS Al Hujurat :10.)

Iman sebelum ukhuwah, benarnya iman akan benar pula ukhuwahnya. Sebab, ukhuwah bukanlah persaudaraan formalitas, bukan pula persaudaraan atas dasar kepentingan sesaat apalagi sekedar basa-basi komunikasi dalam interaksi. Ukhuwah bukanlah eratnya jabat tangan dan senyuman manis di suasana meriah, bukan pula untaian kata-kata indah di kala gundah. Ia lebih dalam dari itu semua. Ukhuwah menuntut interaksi seluruh unsur kemanusiaan: Hati, akal dan jasad, ketiganya dituntut untuk terlibat membersamai ke dalam bentuk-bentuk ukhuwah. Ukhuwah itu ciri khas keimanan, ia menjadi karakternya orang beriman. Tak sempurna iman seseorang yang tak ber-ukhuwah atau enggan menjalin ukhuwah.

Ukhuwah itu adalah cinta karena Allah dan ketulusan hati seorang mukmin terhadap saudaranya sesama mukmin. Dicinta karena beriman, karena ia hamba Allah, sama dengan dirinya. Ukhuwah menuntut penghormatan seorang  mukmin terhadap mukmin lainnya baik saat dekat maupun jauh. Tidak menghinanya saat berada bersamanya ataupun meninggalkannya. Membuang jauh sifat ingin mendzalimi, tidak menyakiti fisik dan juga hatinya, tidak suka mendebat dan mencercanya. Menahan diri dari teror dan fitnah ataupun tipu daya terhadapnya. Mewujudkan ukhuwah berarti pantang memandang saudaranya dengan pandangan merendahkan.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzalimi atau mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya sesama muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Tidak akan ada ukhuwah kecuali dengan bersatu dan meninggalkan faktor pemicu perpecahan dan pertengkaran. Tanda lenyapnya ukhuwah adalah munculnya permusuhan, merajalelanya iri dan dengki, menyebarnya fitnah dan teror, suasana saling hasut, seolah musuh mengitari kita. Bak layang-layang putus melayang tanpa kendali, seakan tak ada guna nasihat dan peran pemimpin. Fenomena seperti ini tak boleh terjadi pada sebuah jama’ah. Ukhuwah itu menyatukan dan mempersaudarakan, mengikat hati dan ruhani dengan sekuat-kuat ikatan yaitu aqidah. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan sedangkan perpecahan adalah saudaranya kekufuran. Kekuatan pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih.

Ingatlah dalam diri kita ada hak yang harus didapatkan oleh untuk saudara kita. Di antara hak itu ialah hak atas harta.Tidak semua harta yang kita miliki adalah milik kita. Hal tersebut lantara berjama’ah itu menuntut terwujudnya keterpaduan jiwa. Masing-masing berperan dalam bahu-membahu saling menanggung beban. Untuk itulah ada peran zakat, infaq dan shodaqoh ataupun kotak amal (sunduq). Dalam berjama’ah harus tegak amal-amal tersebut. Dengan kata lain bukanlah sebuah jama’ah yang di dalamnya tidak ada hak dan kewajiban harta tersebut. Kemudian adanya hak kasih sayang.

Orang mu’min yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi akan terlihat bagaikan satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh menderita sakit, maka yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur danmerasa demam.” (HR Bukhari).

Tingkatan ukhuwah paling minimal adalah berlapang dada terhadap saudaranya. Tidak mungkin ukhuwah dibangun selama dada ini masih menyimpan dendam kesumat. Ukhuwah tidak mungkin lepas dari peran hati. Hati yang sakit akan menjangkiti akal hingga tak lagi mampu berpikir sehat, dus lahirlah ucapan dan tindakan yang kurang sehat. Jika kita mampu mengobati hati sehingga sehat dan berlapang dada, itulah ukhuwah, yaitu menerima kehadiran orang lain sebagai saudara.

Jauhilah prasangka, karena prasangka itu ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, juga janganlah saling mendengki, membenci, atau memusuhi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Bukhari)

Tingkatan ukhuwah paling tinggi adalah mendahulukan kepentingan saudaranya daripada diri sendiri.

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS Al Hasyr: 9).

Ibnu Umar r.a. berkata, “Suatu saat seorang sahabat Rasulullah s.a.w. diberi hadiah satu kepala domba, kemudian dia menjawab, “Akhi fulan lebih membutuhkannya dari pada aku, kemudian orang ini pun mengirimkannya kepada yang lain, hingga kembali lagi kepada lelaki yang pertama setelah mengalami perpindahan selama tujuh kali”.[1]

Diceritakan bahwa ada sahabat bernama Masruq mengalami beban hutang yang sangat berat, padahal saudaranya yang bernama Khoitsamah juga sedang terjerat hutang. Kemudian Masruq pun pergi membayar hutang Khoitsamah tanpa sepengatahuannya. Sementara pada kesempatan lain Khoitsamah juga pergi untuk membayar hutang Masruq tanpa sepengetahuannya[2]. Dalam QS. Al Hasyr ayat 9 istilah ini disebut dengan itsar. Di sana mengandung kisah orang-orang Anshor yang memberikan harta dan segala keperluan yang dibutuhkan saudaranya dari kaum Muhajirin. Kaum Anshor bersegera dan penuh dengan antusias mencukupi kebutuhan saudaranya mengalahkan kepentingan dirinya saat itu. Semua itu tak bisa dibangun tanpa keimananan dan cinta.

Membangun ukhuwah sama halnya dengan membangun cinta, yang biasanya melalui proses: Ta’aruf (saling mengenal), ta’aluf (menjalin ikatan hati), tafahum (saling memahami) dan takaful (saling memberikan pertolongan). Kesemuanya adalah rangkaian proses yang akan membentuk jalinan kekuatan ukhuwah. Tanpa itu ukhuwah hanya akan menjadi utopia (mimpi). Biasanya orang yang tidak kenal maka tak akan ada sayang, dan jika sudah tertanam sayang pasti ada ikatan hati. Hati yang saling bertautan akan menumbuhkan saling pengertian dan kesepahaman, jika demikian pertolongan akan mudah datang. Betapa indahnya ukhuwah, dan untuk itulah ia dibangun.


[1] Majdi Al Hilali dalam bukunya Rakaizud da’wah (Surakarta, Media Insani Press, 2003). Hal. 169

[2] Ibid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: