ETIKA JAMA’AH DAKWAH (3)

7 Mar

 

adu argumen?MENINGGALKAN FANATISME KELOMPOK

“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama’ah kemudian mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah. Dan barangsiapa berperang dengan bendera ashabiyah, murka demi ashabiyah, menyeru kepada ashabiyah dan menolong demi ashabiyah kemudian terbunuh, maka ia terbunuh dengan keadaan jahiliyah. Dan barangsiapa keluar menuju umatku lantas ia membunuh orang-orang yang baik maupun bejat, tidak mengecualikan orang mu’minnya, dan tidak melindungi janji orang yang memiliki janji, maka ia bukanlah golonganku dan aku pun bukan golongannya.” (HR Muslim)

Beragam jama’ah biasanya akan melahirkan kebanggaan dan merasa paling benar pada kelompoknya. Sikap tidak etis yang paling menonjol adalah ta’ashub (fanatik) dan hal ini harus dijauhi. Sikap fanatik menjadikan seseorang selalu membela kelompok atau jama’ahnya tanpa memperdulikan kebenaran dan kebatilan, sebagaimana ungkapan orang-orang jahiliyah: “Tolonglah saudaramu yang zalim atau dizalimi”.

Di antara sikap fanatik kepada jama’ah atau kelompok adalah memberikan sifat-sifat yang hampir mendekati ma’shum atau kultus kepada jama’ah atau tokohnya,  menepis kekurangannya bahkan dengan melecehkan keberadaan jama’ah selainnya. Mereka lupa bahwa tujuan jama’ah dibentuk adalah untuk membela dan memperjuangkan ‘izul Islam wal Muslimin.

Sesungguhnya keberadaan suatu jama’ah itu adalah tidak lebih dari sekelompok kaum Muslimin yang berjihad dan berijtihad memperjuangkan Islam wal Muslimin serta meninggikan kalimatNya. Bagi yang benar ijtihadnya mendapatkan dua pahala, yang salah ijtihadnya mendapatkan satu pahala.

Bukankah kita dituntut untuk berlaku adil dan menjadi saksi sekalipun terhadap diri sendiri? Sikap ‘ashabiyah akan membuat dirinya keluar dari kebenaran dan kecintaannya akan mengakibatkan terjerumus kepada kebatilan.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.”(An Nisa: 135)

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maidah: 8)

Di antara gejala fanatisme ini adalah sikap gembira atas kesalahan–kesalahan kelompok lain, disamping mengecam kesalahan-kesalahan tersebut dan menabuh genderang atasnya. Tetapi pada waktu yang sama ia menutup mata dari kesalahan-kesalahan jama’ahnya. Kalaupun diakuinya ia berusaha memperkecil kesalahan itu dan mencarikan dalih serta membelanya.

Beragam dan banyaknya gerakan biasanya melahirkan fantisme harakah. Dakwah Islamiyah yang mestinya didedikasikan untuk untuk Islam menjadi sempit hanya  untuk jama’ahnya saja. Pembicaraan ini tidak berarti penolakan terhadap intima’ (komitmen) kepada tandzim (struktur) dan harakah. Hanya saja intima’ terhadap Islam harus didahulukan atas intima’ kepada tandzim. Sebagaimana pula wala’ kepada Allah s.w.t. harus didahulukan atas wala’ kepada personil, dan iltizam kepada syari’at Allah diutamakan sebelum kepada undang-undang dan konsep manajemen.

“Janganlah kalian menjadi seperti orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka berkelompok-kelompok. Setiap kelompok berbangga dengan kelompoknya itu.” (Ar Ruum:32)

”Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al Anbiyaa’:92)

Ta’ashshub dan ‘ashabiyah  adalah perangai yang dicela dan dibenci Rasulullah s.a.w. Al Qur’an menyeru kita agar melepaskan diri dari belenggu segala bentuk ta’ashshub. Ta’asshub kekeluargaan, kekerabatan, kelompok dan sebagainya.

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”(At Taubah: 24)

Rasulullah s.a.w. telah mengingatkan kita perihal ta’asshub dan ‘ashabiyah dengan sabdanya:

Bukanlah dari golonganku orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah dan bukanlah golonganku orang yang mati membela ‘ashabiyah.” (HR Abu Daud)

Perilaku ini harus segera ditinggalkan, karena ia sesuatu yang busuk lantaran akan menceraikan persatuan, menciptakan jarak antara sesama kaum muslimin serta mencampakkan nikmat dari Allah swt yang telah diturunkan kepada hamba-hamba-Nya.

“.. dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran:103)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: