ETIKA JAMA’AH DAKWAH (4)

14 Mar

tudingBUKAN JAMA’AH TAKFIR (MENGKAFIRKAN)

Juru dakwah/da’i bukanlah pemvonis, mendakwa orang lain sebagai ini dan itu dan harus disikapi dengan sikap tertentu berdasarkan penilaiannya. Para da’i bekerja dan mengajak untuk berhimpun dalam wadah kebersamaan berjama’ah, namun tidak untuk mengkafirkan selainnya. Kedudukan suatu jama’ah yang ada sekarang adalah jama’ah minal muslimin, yaitu sebuah komunitas sebagai bagian dari  umat Islam dan bukan jama’atul muslimin yang berpandangan bahwa umat Islam berada dalam satu kepemimpinan  seorang imam. Jama’ah yang mengklaim sebagai jama’atul muslimin akan rentan dengan sikap takfir atau mengkafirkan semua orang selain jama’ahnya.

Semestinya para kader dakwah atau anggota jama’ah menganggap lembaga atau jama’ah lain sebagai mitra seperjuangan untuk menegakkan kalimat Allah swt. Masing-masing mengharapkan keberhasilan dakwahnya dengan upaya pendekatan, menghimpun dan menyatukannya di sekitar pemikiran umum. Oleh karenanya hendaknya bersedia mengedepankan sikap saling mencintai dan bersaudara serta saling memberikan dukungan. Sebagaimana kaidah yang pernah disampaikan oleh syaikh Muhammad Rasyid Ridha: “Bekerjasama dalam masalah yang disepakati, toleransi dalam hal yang diperselisihkan”. Sudah semestinya kita tidak dipisahkan oleh suatu pendapat fiqhiyah atau perbedaan madzhab, agama ini mudah, siapa yang mempersulit diri dalam menerapkan agama niscaya akan menemui kesulitan.

Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: “Wahai si kafir”, maka panggilan itu akan kembali kepada salah satunya jika ia seperti apa yang dikatakan, tetapi jika tidak maka (panggilan) itu akan kembali kepada yang mengucapkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa menuduh kafir seseorang atau memanggil: ”Wahai musuh Allah”, padahal orang yang dipanggil tidak demikian maka tuduhan kafir itu kembali kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa menuduh kafir sesorang Mu’min maka ia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dahulu Usamah bin Zaid dalam sebuah pertempuran telah membunuh musuh yang telah mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallah“. Kasus tersebut membuat Rasulullah saw murka, beliau mengecam tindakan Usamah bin Zaid dan tidak menerima alasan  yang mengatakan bahwa musuh yang telah dibunuhnya tersebut mengucapkan la ilaaha illallah lantaran takut pedang. Maka kata Nabi s.a.w. kepada Usamah: “Mengapa engkau tidak membelah dadanya?

Ya, beliau mengkritik tajam perilaku itu, sebab sahabat tersebut merasa dirinya tahu akan isi hati seseorang. Perasaan sok tahu atau tidak mau tahu inilah yang sering menjadi biang perselisihan. Kita tidak boleh menerjang aturan ini dengan mengkafirkan seorang Muslim lantaran dosa-dosa yang dilakukannya atau bid’ah yang diamalkannya atau karena pendapat-pendapat yang dianutnya sekalipun pendapat itu tidak benar.

Imam Ibnu Wazir berkata tentang masalah ini: “Di antara hal yang menguatkan agar takfir ini ditinggalkan ialah perintah Nabi s.a.w. dalam masalah ini dengan nash-nash khusus. Ini termasuk penegasan yang paling kuat dan jelas, seperti dalam hadits Anas r.a, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah s.a.w:

Tiga hal termasuk prinsip keimanan: menahan diri dari orang yang mengucapkan la ilaaha illallah, tidak mengkafirkannya karena suatu dosa dan tidak mengeluarkannya dari Islam karena suatu perbuatan…”(HR. Abu Dawud di dalam Kitabul Jihad).

Dalam penjelasan lain bahwa Nabi s.a.w. memerintahkan kepada umatnya untuk memerangi orang-orang Khawarij. Di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. mereka telah diperangi dan telah disepakati oleh para Imam dari kalangan sahabat, tabi’in dan lainnya tentang kewajiban memeranginya. Namun demikian Ali r.a. sendiri dan para sahabat yang lain seperti Sa’ad bin Abi Waqqash tidak mengkafirkan mereka, bahkan menempatkan mereka sebagai kaum Muslimin kendatipun diperangi.

Ali r.a. memerangi mereka karena mereka menumpahkan darah dan menyerbu harta kaum Muslimin. Ali r.a. memerangi mereka untuk menghentikan kezaliman dan kekejian mereka, bukan karena mereka kafir. Oleh sebab itu Ali r.a. tidak menjadikan wanita-wanita mereka sebagai tawanan dan harta mereka sebagai barang rampasan perang.

Jika mereka yang oleh nash dan ijma’ para ulama saja telah dinyatakan sesat bahkan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk diperangi tetap tidak dikafirkan, apalagi terhadap beragam jama’ah/kelompok dari kaum Muslimin yang berbeda pendapat dalam mencari kebenaran. Karena itu di antara kelompok-kelompok kaum Muslimin tidak boleh saling mengkafirkan dan saling menghalalkan darah, sekalipun melakukan bid’ah. Dengan demikian julukan kafir hanyalah bagi mereka yang mengamalkan sesuatu yang secara jelas bertentangan dengan nash qath’i.

Sebagai sebuah jama’ah dakwah, tidak diperbolehkan mengkafirkan seorang Muslim yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan masih beramal dengan kewajibannya, baik karena suatu pendapat atau kemaksiatan, kecuali kalau ia menyatakan kekafiran atau menolak ajaran Islam yang sudah pasti atau mendustakan Al Qur’an secara terang-terangan; atau menafsirkannya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab sama sekali; atau melakukan sutau perbuatan yang tidak dapat ditafsirkan lain kecuali kekafiran.

Sebuah prinsip yang sudah dikenal adalah bahwa seseorang dianggap Muslim dengan dua kalimat syahadat yang telah diucapkannya sehingga darahnya berhak dilindungi. Setelah itu bisa jadi ia akan menjadi Muslim yang shalih atau menjadi seorang Muslim yang bermaksiat atau tidak sempurna, atau menjadi murtad karena suatu perbuatan atau perkataan tidak dapat diartikan lain kecuali kekafiran. Dalam keadaan demikian ia diminta untuk taubat sebelum dihukumi murtad; kemudian pemerintah Islam mengambil tindakan tegas untuk menegakkan hukum menyangkut orang yang telah murtad. Tetapi jika kita tidak menganggap orang yang telah mengucapkan syahadatain sebagai Muslim, kemudian kita tunggu bagaimana perbuatannya sesuai dengan konsekuensi syahadatain itu agar kita dapat menyatakan Islam tidaknya orang tersebut; maka sikap ini tidak sesuai dengan prinsip Islam. Sebab bagaimana mungkin kita dapat mengawasi perbuatannya sesuai dengan konsekuensi syahadatain-nya? Kapan dan bagaimana kita dapat pastikan bahwa dia telah beramal sesuai dengan konsekuensi syahadatain-nya? Bagaimana kita memperlakukannya selama menunggu kepastian ke-Islamannya? Apakah kita perlakukan sebagai orang kafir yang belum Islam? Tak diragukan lagi bahwa sikap ini bertentangan dengan syari’at Islam dan realitas kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: