ETIKA JAMA’AH DAKWAH (5)

21 Mar

sayangCINTA DAN KASIH SAYANG SEBAGAI LANDASAN

Jama’ah mesti tegak di atas landasan kasih sayang serta bertaburnya kecintaan di seluruh kalangan anggotanya. Walaupun dalam hal ini bukan berarti mengabaikan aspek-aspek tandzim jama’ah. Karena dalam tandzim jama’ah pasti ada unsur perintah dan larangan, kebijakan-kebijakan, keputusan, serta penghormatan akan struktur dalam bentuk lainnya yang kadangkala mengkooptasi perasaan cinta dan kasih sayang. Namun bahwa kasih sayang sebagai landasan berjama’ah adalah keharusan. Sehingga hubungan antara qiyadah dan jundiyah (pemimpin dengan anggota) tidaklah semata-mata atas dasar tandzim (hal-hal yang berkaitan dengan urusan struktur/manajemen organisasi) saja. Bahkan sudah semestinya sebuah jama’ah menjadi tauladan dalam hal cinta dan kasih sayang sesama muslim.

Kekuatan atas dasar cinta akan lebih dahsyat ketimbang kekuatan karena struktur. Cinta yang terkoordinasi dalam susunan yang rapi akan menjadi daya penghancur yang hebat bagi musuh-musuhnya. Sebab kumpulan orang yang bercinta akan melibatkan seluruh unsur kemanusiaannya yaitu; hati, akal dan jasadnya. Tidak hanya perkumpulan lahiriyah saja, namun hati dan ruh mereka menjadi daya dorong yang sangat kuat yang akan menjadi tumbal taruhan di medan perjuangan. Sehingga melahirkan daya juang yang sangat tinggi. Bangunan dakwah yang mendasarkan pada cinta dan kasih sayang akan sangat kokoh dan siap menghadapi unsur-unsur penghancur yang banyak ragamnya, dari yang terang-terangan maupun yang menipu.

Cinta dan kasih sayang tak hanya sebagai penguat bangunan saja, namun juga sebagai daya magnet yang kuat terhadap manusia di sekelilingnya. Sebagaimana hal ini telah di wujudkan dengan nyata oleh Rasulullah saw. beserta para sahabatnya untuk dijadikan teladan bagi seluruh manusia.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)

Adapun bentuk kasih sayang seorang pemimpin dengan anggotanya adalah sejauh mana perhatiannya kepada mereka. Pemimpin mengetahui penderitaan atau beban-beban yang dirasakan oleh para anggotanya. Demikian juga imbal baliknya, para anggota memahami beban berat pemimpinnya. Dalam keadaan demikian tanpa adanya landasan cinta dan kasih sayang, atau hanya mengandalkan kekuatan formal struktural semata, akan menjadikan beban terasa lebih berat. Sebagaimana seseorang yang merasa beban hidupnya lebih ringan setelah menyampaikan curahan hatinya (curhat) kepada seseorang yang disayanginya.

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” At Taubah:128)

Namun hendaknya sikap kasih sayang itu ditebarkan ke seluruh kaum muslimin. Banyaknya Ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi saw cukup untuk menjadikan kasih sayang sebagai shibghah (celupan) yang akan mewarnai hidup kita. Karena Allah swt. telah memuliakan bani Adam dengan Islam.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al Isra: 70)

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy Syu’ara: 215)

yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Al Maidah: 54)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al Fath:29)

Oleh karena itu kemuliaan para da’i adalah dengan kasih sayangnya tersebut. Hilangnya cinta, kasih sayang dan kelemahlembutan maka hilang pula kemuliaannya. Mereka akan menjadi sekumpulan orang-orang yang keras, kaku dan takabur atas nama agama. Al Ustadz Fathi Yakan berkata, “Sesungguhnya medan da’wah Islam di seantero dunia, saat ini dan kapan pun, selalu membutuhkan para da’i. Akan tetapi mereka yang tidak memiliki perangai kasih sayang dan lemah lembut, yang sudah dicap berperangai keras dan kaku, tidak sesaat pun bisa menjadi kelompok para da’i yang dibutuhkan itu. Bahkan potensi penghancur yang mereka miliki barangkali lebih besar dari potensi pembangun. Benarlah seorang ahli sya’ir bertutur:

Kalaulah ada seribu pembangun

Dihadapi seorang penghancur,

Cukuplah sudah.

Bagaimana dengan seribu penghancur

Menghadapi hanya seorang pembangun?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: