ETIKA JAMA’AH DAKWAH (6)

28 Mar

sujudJAMA’AH PERINDU SURGA

Selayaknya kaum muslimin itu merindukan surga, dan seharusnya pula jama’ah dari kaum muslimin itu sebagai motor penggerak umat menuju ke sana. Adapun menuju ke surga itu hendaknya dilakukan dengan semangat dan bersegera, bukan dengan sikap acuh tak acuh.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Ali Imran: 133)

Ada peluang sangat besar untuk meraih surga bagi mereka yang mengikuti sunah Rasulullah saw. dan masuk dalam daftar umatnya. Dan dari sekian banyak manusia itu yang paling besar jaminan masuk surganya adalah mereka yang berjama’ah dan ber-iltizam (komitmen) di dalamnya.

Aku wasiatkan kepada kalian (agar mengikuti) para sahabatku, kemudian generasi berikutnya kemudian generasi berikutnya… Kalian harus berjama’ah. Wasapadalah terhadap perpecahan, kerena sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, dan ia (setan) akan lebih jauh dengan dua orang. Barangsiapa menginginkan bau wangi surga maka hendaklah komitmentdengan jama’ah.” (HR Tirmidzi)[1]

Dari Ibnu Abbas, Nabis saw berkata, “Barangsiapa memisahkan diri dari jama’ah sejengkal kemudian ia mati maka matinya adalah (mati) jahiliyah.” (HR. Muttafaq’alaih)

Tanpa ada jama’ah maka tak ada motor penggerak ummat untuk mengajak mereka ke surga-Nya. Sebab Islam bukanlah agama sendirian, Islam mengajak kepada kebersamaan berjama’ah menjadi umat yang satu untuk mengikuti sunah Rasulullah saw., atau ahlus sunnah wal jama’ah. Sebagaimana kelak di akhirat manusia akan terbagi-bagi ke dalam golongannya masing-masing. Jama’ah bertugas memanajemen manusia agar mereka tidak keluar dari jalan Islam, hingga manusia kembali kepada ketauhidan serta berhimpun ke dalam keutuhan umat Islam.

Dari generasi terdahulu hingga sekarang selalu ada tugas untuk mengajak manusia berhimpun dalam umat Rasulullah saw. Tugas jama’ah adalah sebagai penggembala yang menggiring dan mengawasi gembalaannya agar tidak hilang jumlahnya serta selamat hingga ke tempat pulang.

(yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.” (Al Waaqi’ah: 39-40)

Seberapa banyak umat Nabi Muhammad saw yang menghuni surga, maka jama’ah dakwah Islamiyah sudah barang tentu masuk dalam daftar tersebut.

Apakah kalian tidak ridha kalau kalian menjadi seperempat penghuni surga?” Maka kami serentak membaca takbir. Rasulullah saw. bersabda lagi, “Apakah kalian tidak ridha kalau kalian menjadi sepertiga penghuni surga?” Maka kami kami semua serentak bertakbir. Rasulullah saw. bersabda lagi, “Sesungguhnya saya berharap bahwa kalian menjadi setengah dari penghuni surga dan yang demikian akan aku beritahukan kepada kalian. Apa yang dimiliki orang-orang Islam dibandingkan dengan apa yang ada pada orang-orang kafir tak ubahnya seperti sehelai rambut putih pada sapi hitam atau seperti sehelai rambut hitam pada sapi putih.” (HR Bukhari dan Muslim dan redaksi bahasa menurut kriteria Muslim).

Setelah berita gembira disampaikan oleh Rasulullah saw., maka para sahabat beliau bertakbir. Betapa mereka sangat antusias dengan apa yang disampaikan Rasul-Nya. Para sahabat, mereka  adalah orang-orang yang berjama’ah di bawah bimbingan Rasulullah saw. mereka sangat aktif menyelamatkan manusia dari bahaya api neraka menuju surganya.

Oleh karena itu jama’ah harus selalu sibuk mengajak manusia dan memanajemen mereka kepada keutuhan umat Islam. Jama’ah sama sekali tidak boleh sibuk dalam pertikaian internal, ribut dan bertele-tele dalam penataan, tetapi menghabiskan waktu dan energinya untuk mengambil hati manusia agar kembali kepada Tuhannya, ke taman surga. Semangat mengajak ke surga tak akan muncul manakala para aktivis pengajaknya tidak ada kerinduan terhadap surga. Sudah semestinya para aktivis dakwah baik Muslim dan Muslimah adalah orang-orang yang paling merindukan surga. Kerinduan itu termanifestasikan ke dalam sikap perilakunya sehari-hari. Seperti kebaktian seorang istri kepada suaminya adalah perwujudan dari kerinduan pada surga, karena terdapat hadits:

Dalam Musnad Ahmad disebutkan hadits dari Katsir bin Murrah dari Mu’adz bin Jabal r.a. dari Nabi saw., yang bersabda, “Janganlah seorang istri menyakiti hati suaminya di dunia istrinya dari bidadari-bidadari yang bermata jelita pasti berkata, “Jangan sekali-kali kamu menyakiti hatinya. Mudah-mudahan engkau dimatikan Allah. Ia bagi Anda hanyalah sebatas tamu dan sebentar lagi ia meninggalkanmu dan menjadi milik kami.

Dengan peringatan ini para istri tak akan mengabaikan suaminya, karena ia akan tetap menjadi miliknya kelak di surga nanti. Kerinduan kepada surga hendaklah mewarnai para aktivis dakwah, sebagaimana hal ini juga mewarnai generasi terdahulu.

Atha’ As Sulami berkata kepada Malik bin Dinar, “Wahai Abu Yahya, buatlah kami rindu dengan surga!” Kata Malik bin Dinar, “Wahai Atha’, sesungguhnya di surga terdapat bidadari yang kecantikannya menjadi bahan pembicaraan bidadari-bidadari surga yang lain. Sekiranya Allah memberlakukan kematian terhadap penghuni surga, maka mereka akan mati karena melihat kecantikannya.” Ucapan Malik bin Dinar itu pun meninggalkan kesedihan dalam hati Atha’.

Ahmad bin Abu Al Hawari berkata bahwa berkata kepadaku Ja’far bin Muhammad yang berkata bahwa hakim pernah bertemu dengan hakim yang lain. Kata hakim yang pertama, “Apakah engkau rindu dengan bidadari-bidadari yang bermata jelita?” Kata hakim yang kedua, “Tidak!” Kata hakim yang pertama, “Rindulah kamu kepada mereka karena cahaya mereka adalah cahaya Allah Azza wa Jalla.” Mendengar ucapan tersebut hakim yang kedua tak sadarkan diri lalu diangkut ke rumahnya dan kami mengunjunginya selama sebulan.

Kata Rabi’ah bin Kaltsum bahwa berkata kepadaku Ibnu Abu Al Hawari yang berkata bahwa berkata kepadaku Al Hadrami, “Aku pernah tidur di teras rumah dengan Abu Hamzah. AKu lihat Abu Hamzah membolak-balikkan badannya di atas kasurnya hingga pagi hari. Aku katakan kepadanya, “Wahai Abu Hamzah, kulihat engkau tidak bisa tidur tadi malam kenapa?” Kata Abu Hamzah, “Ketika aku merebahkan badanku, seolah-olah bidadari yang bermata jelita datang kepadaku hingga seolah-olah aku menyentuh kulitnya, padahal kenyataannya aku mennyentuh kulitku sendiri.” Lalu hal ini aku ceritakan kepada Abu Sulaiman. Kata Abu Sulaiman, “Orang tadi benar-benar rindu kepada bidadari-bidadari yang bermata jelita.”

Ibnu Abu Dunya menyebutkan dari Shalih Al Muri dari Zaid Ar Raqasyi yang berkata, “Diceritakan kepadaku bahwa ada cahaya yang memancar di surga. Tidaka ada satu tempatpun di surga kecuali cahaya tersebut masuk ke dalamnya.” Dikatakan, “Cahay apakah ini?” Kata Zaid Ar-Raqasyi, “Itu adalah cahaya bidadari yang bermata jelita yang sedang tertawa di hadapan suaminya”. Kata Shalih, “Ada seorang laki-laki di pojok majelis menangis dan menangis hingga meninggal dunia lantaran mendengar cerita tersebut”.

Ibnu Mubarak berkata bahwa berkata kepadaku Auza’i dari Yahya bin Abu Katsir yang berkata, “Sesungguhnya bidadari-bidadari yang bermata jelita menunggu suaminya masing-masing di pintu-pintu surga. Kata mereka, “Aduh betapa lamanya kami menanti kedatangan kalian. Kami selalu ridha dan tidak cemberut selama-lamanya. Kami tetap tinggal bersamamu dan tidak berpisah denganmu selama-lamanya. Kami kekal abadi dan tidak mati selama-lamanya”. Ia mengucapkan yang demikian dengan suara yang paling merdu yang pernah didengar telinga. Kata bidadari yang bermata jelita, “Engkau adalah kekasihku dan aku adalah kekasihmu”.

Dengan demikian untuk apa kita berjama’ah jika tak ada kerinduan ke surga-Nya? Tidak akan ada jama’ah perindu surga tanpa kader-kader atau anggotanya yang antusias dengannya. Kerinduan akan surga menjadikan beban dan ujian menjadi lebih ringan. Kehidupan akan lebih bermakna karena terpampang harapan.


[1] Bab Al Fitan (2166), ia berkata: hasan shahih gahrib.. Ia berkata: Hadits ini telah diriwayatkan dari jalan lain dari Umar. Juga diriwayatkan oleh Al Hakim dan dishahihkannya menurut syarat Bukhari dan Muslim, serta disepakati, oleh Adz Dzahabi (1/114)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: