URGENSI ETIKA DALAM JAMA’AH DAKWAH

4 Apr

pasDalam Islam, etika dimaksud sesungguhnya adalah akhlaq, dan keberadaannya sangat dijunjung tinggi. Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” (HR Baihaqi).

Tanpa kemuliaan akhlaq, akan runtuh bangunan jama’ah betapapun kuat aqidah mereka. Karena akhlaq adalah perangkat pengendali, sedangkan aqidah adalah mesin penggerak. Gerakan yang tak terkendali akan melahirkan kerusakan di mana-mana. Risalah Islam tidak hanya menekankan kebersihan aqidah saja, namun juga akhlaq. Konstruksi atau bangunan Jama’ah dakwah Islamiyah pun tak hanya terdiri dari mesin penggerak (aqidah) saja, namun harus melengkapi dirinya dengan kemuliaan akhlaq sebagai perangkat pengendali.

Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pula yang lain”.(HR Hakim dan Thabrani)

Malu adalah bagian dari akhlaq yang tak terpisahkan dengan iman. Demikian juga bagian-bagian akhlaq lain yang banyak macamnya[1] juga merupakan bagian dari iman.

Kedua pilar ini, iman dan akhlaq, seperti dua sisi dalam satu mata uang. Orang yang hilang sebagian akhlaqnya akan dapat kehilangan sebagian imannya. Kesempurnaan akhlaq juga akan menyempurnakan imannya.

Etika atau adab dalam konteks perorangan maupun jama’ah juga merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan akhlaq. Orang yang tidak mempunyai etika, tata krama akan dikatakan dengan orang tidak beradab atau tidak berakhlaq. Masyarakat madani juga merupakan masyarakat etis, yaitu masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika atau adab, masyarakat yang memiliki “tepo seliro”[2] (menjunjung tinggi nilai keberagaman), atau masyarakat yang tidak “kampungan” alias masyarakat kota. Walaupun sebenarnya kata “madani” diambil dari kata Madinah. Sebagaimana masyarakat Madinah bentukan Rasulullah saw. yang sebelumnya bernama Yatsrib.

Etika dalam jama’ah mengangkat tinggi nilai keberagaman, menjunjung tinggi kesatuan, membuang jauh sifat-sifat tercela, arogansi, fanatisme golongan. Karena visi dan misi jama’ah dakwah adalah mengantarkan kaum muslimin kepada peradaban masyarakat madani, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Rasulullah saw. Akhirnya kita harus kembali meneladani metode dakwah Rasulullah saw. karena dalam diri beliau ada suri tauladan yang luar biasa. Beliaulah manusia yang paling taqwa, manusia yang paling mengerti Islam dan yang paling mengerti karakter manusia juga paling tahu solusi problematika manusia dengan hidayah dan inayah-Nya.

Beliau tidak serta merta menghukumi manusia, namun setiap sabdanya selalu tepat pada sasarannya dan tak pernah melukai perasaan seseorang, bahkan kadangkala sikap beliau hanya diam. Beliau bisa saja serta merta memohon kepada Allah swt. agar seluruh orang yang zalim dan ingkar kepada-Nya dilenyapkan dari muka bumi. Tetapi beliau tak menghendaki itu, beliau memilih menggunakan taktik dan strategi serta meletakkan dasar-dasar norma dan tata krama Islami dalam metode dakwahnya kepada manusia. Seperti tuntunan atau ajaran  penghormatan orang muda kepada yang tua, berbakti kepada kedua orang tua, menyampaikan Islam sesuai kadar akal seseorang, menyebarkan salam, kasih sayang dan kelemahlembutan, persaudaran, menghormati tetangga dan tamu, adab-adab berbicara dan mendengar, seperti berkata yang baik atau diam, sikap tawadlu’, memberi selamat dan hadiah, dan sebagainya yang tertampung dalam ajaran akhlaq Islam. Syari’at Islam tidaklah semata-mata hanya fiqhul ahkam, namun ada fiqhud da’wah yang tidak boleh dilupakan. Sebab inti dakwah adalah mengajak manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Oleh karena itu jama’ah harus terus tetap menjaga pembinaan terhadap etika bagi setiap kadernya agar tercapai hal-hal sebagai berikut:

  • Agar para kader/aktifisnya memiliki nurani yang tetap terjaga, karena dengan nurani itulah akan menjadi pengontrol bagi segala tingkah lakunya. Al Qur’an mengistilahkan hal ini dengan furqon (pembeda).
  • Agar para kader memiliki sensitivitas hati. Yaitu hati yang mampu merasakan buah sebuah perbuatan dan meresponnya dengan benar. Ia akan merasakan kebahagiaan atau kegembiraan dengan perbuatan baik, dan bilamana ia merasakan adanya keburukan maka ia akan sakit karenanya. Dengan demikian ia akan memiliki estetika.
  • Agar para kader dakwah tersebut memiliki benteng ma’nawiyah (moral) yang kokoh (matinul khuluq). Artinya, ia berperilaku dengan sejumlah akhlaq Islami. Sehingga setiap kader atau anggota jama’ah menjadikan akhlaq yang utama sebagai acuan dan pedoman yang tidak akan ia langgar.

Dengan demikian akan memudahkan bagi jama’ah dakwah untuk melakukan akselerasi dan pertumbuhan ke depannya, tidak terhambat oleh problematika internal dalam kaitan ini. Keuntungan jama’ah dalam pembinaan/penjagaan masalah ini adalah adanya kontrol internal, adanya tarbiyah dzatiyah (pembinaan diri), rasa estetika, dan kedisiplinan akhlaq. Untuk mencapai hal itu jama’ah hendaknya menciptakan bi’ah (lingkungan) yang kondusif dan teladan yang baik, juga kesiapan setiap kader dan kesediaannya untuk menyandang sifat-sifat baik serta menjalankan akhlaq tersebut dalam kehidupan nyata.

Mencampakkan etika dalam dakwah adalah keberanian yang besar yang tidak patut ditiru, karena di luar sunnah dakwah Rasulullah saw. Mencampakkan etika dalam dakwah bagi sebuah jama’ah ibarat memberi penyakit campak/cacar pada organ tubuh manusia. Hal itu memang menarik perhatian banyak orang namun siapa yang akan suka dan siapa yang akan mendekat? Manusia beramai-ramai mebicarakannya bukan untuk memenuhi seruannya namun takut tertular olehnya atau mengusir penyakitnya atau bahkan mengusir orangnya.


[1] DR. H Yunahar Ilyas, Lc., M..A., dalam bukunya Kuliah Akhlaq menyebutkan bentuk akhlaq Islam dengan; Akhlaq Rabbani, Akhlaq Manusiawi, Akhlaq Universal,  Akhlaq Keseimbangan, Akhlaq Realistik.

 [2] Dalam beberapa kesempatan di tahun 1998, Prof. DR. Ikhlasul Amal, Rektor UGM saat itu, mengatakan masyarakat madani adalah masyarakat yang memiliki “tepo seliro”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: