TENTANG DO’A BULAN RAJAB..

3 Mei

doaSebagian umat Islam mungkin pernah pernah mendengar atau mendapati doa dalam sebuah riwayat: “Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’ban wa balighna fi Ramadhan.”
Hadits ini sangat terkenal, sering terdapat dalam spanduk dan majalah-majalah Islam menjelang datangnya Ramadhan. Hadits tersebut dari Anas bin Malik, ia berkata, bahwa Rasulullah saw jika masuk bulan Rajab, beliau berkata: “Allahumma barik lanaa fii Rajaba wa Sya’ban wa barik lanaa fii Ramadhan.” (Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan berkahilah kami di bulan Ramadhan). (HR. Ahmad, No. 2346. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath, No. 4086, dengan teks agak berbeda yakni, “Wa Balighnaa fii Ramadhan.” Al Baihaqi, Syu’abul-Iman, No. 3654)

Mengenai hadits tersebut, para ulama terdahulu telah melakukan penelitian. Dalam sanad hadits ini terdapat Zaidah bin Abi Ruqad dan Ziyad an Numairi. Imam Bukhari berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad: “Munkarul-hadits”, atau bisa dikatakan bahwa hadits tersebut diingkari alias tertolak lantaran diriwayatkan oleh rawi yang tidak tsiqah (Imam al Haitsami, Majma’ az Zawaid, Juz. 2, Hal. 165. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam An Nasa’i berkata: “Aku tidak tahu siapa dia.” Imam Adz Dzahabi sendiri mengatakan: “Dha’if” (lemah). Sedangkan tentang Ziyad an Numairi beliau berkata: “Ziyad dha’if juga.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz. 2, Hal. 65)

Imam Abu Daud berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad: “Aku tidak mengenal haditsnya.” Sementara Imam An Nasa’i dalam kitabnya yang lain, Adh-Dhu’afa, mengatakan: “Munkarul-hadits”. Sedangkan dalam Al Kuna dia berkata: “Tidak bisa dipercaya.” Abu Ahmad Al Hakim mengatakan: “haditsnya tidak kokoh.” (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, Juz. 3, Hal. 305)

Imam al Haitsami berkata tentang Ziyad an Numairi: “Dia dha’if menurut jumhur (mayoritas ahli hadits).” (Majma’ az Zawaid, Juz. 10, Hal. 388. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Imam Ibnu Hibban mengatakan bahwa penduduk Bashrah meriwayatkan dari Ziyad hadits-hadits munkar. Imam Yahya bin Ma’in meninggalkan hadits-haditsnya, dan tidak menjadikannya sebagai hujjah (dalil). Imam Yahya bin Ma’in juga berkata tentang dia: “Tidak ada apa-apanya.” (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 1, Hal. 306)

Sementara dalam Al Jarh wat Ta’dil, Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: “Dha’if.” (Imam Abu Hatim ar Razi, Al jarh Wat Ta’dil, Juz. 3, Hal. 536)

Syaikh Al Albany mendha’ifkan hadits ini. (Misykah al Mashabih, Juz. 1, Hal. 306, No. 1369. Lihat juga Dha’iful jami’ No. 4395), begitu pula Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnaduhu dha’if (isnadnya dha’if). (Lihat Musnad Ahmad No. 2346. Muasasah Ar Risalah)

Untuk menyikapi hadits tersebut perlu diberikan beberapa komentar untuk dijadikan catatan yaitu:
Jika do’a ini dibaca dengan tanpa menyandarkan kepada Rasulullah saw, tidak menganggapnya sebagai ucapan Nabi saw, hanya ‘meminjam’ redaksinya, maka tidaklah mengapa, sebab berdoa walau dengan susunan kalimat sendiri itu diperbolehkan.
Dari penjelasan di atas tampak bahwa hadits tersebut terkategorikan lemah (dha’if) namun isi di dalamnya adalah anjuran agar setiap mukmin senantiasa memperhatikan waktu-waktu dan usianya untuk tetap berada di dalam kebaikan serta merindukan untuk bertemu dengan bulan mulia, Ramadhan. Tentunya ini merupakan sesuatu yang baik, dan kandungan hadits tersebut tidaklah bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh para ulama salaf yang senatiasa memberikan perhatian kepada bulan Ramadhan sepanjang tahunnya. Setengah tahun sebelum kedatangan ramadhan mereka senantiasa berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan mulia tersebut dan setengah tahun setelahnya berdoa agar berbagai ibadah mereka di bulan mulia itu diterima oleh-Nya.
Al Hafizh Ibnu Rajab mengatakan,”Telah diriwayatkan dari Abu Ismail al Anshariy yang mengatakan bahwa tidak ada dalil yang shahih terhadap keutamaan bulan Rajab selain hadits ini. Pernyataannya ini perlu dikaji karena sesungguhnya didalam sanad hadits ini terdapat kelemahan.”
Hadits tersebut merupakan dalil terhadap anjuran berdoa agar tetap berada di dalam waktu-waktu utama untuk melakukan berbagai amal shaleh di dalamnya. Sesungguhnya bagi seorang mukmin tidaklah bertambah usianya kecuali didalam kebaikan dan sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang usianya dan baik amalnya. Para ulama salaf (terdahulu) menginginkan kematian mereka diikuti dengan amal shaleh, di antaranya puasa Ramadhan atau kembali menunaikan ibadah haji. Terdapat ungkapan,”Siapa yang mati seperti itu maka dia akan mendapatkan ampunan.” (Lathoiful Ma’arif 1/130)
Dengan demikian—meskipun hadits tersebut dha’if—diperbolehkan bagi seorang muslim berdoa dengan hadits tersebut ketika memasuki bulan Rajab. Sebagaimana perkataan para ulama bahwa diperbolehkan mengamalkan hadits dha’if di dalam keutamaan amal (fadhailul-‘amal) dengan syarat bahwa hadits itu tidak diriwayatkan oleh seorang pendusta, kejam dan kasar yang menjadikan kelemahannya sangat berat dan hadits itu juga tidak berkaitan dengan sifat-sifat Allah, tidak berhubungan dengan permasalahan-permasalahan aqidah, atau hukum-hukum syariah berupa halal, haram dan sejenisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: