Menyikapi Golongan Ahlu Bid’ah Dalam Periwayatan

15 Mei

Kondisi bid’ah dalam pembahasan ini bisa mengarah kepada dua macam, yaitu bid’ah yang dianggap menyebabkan kekufuran dan bid’ah yang bersifat kefasikan. Melihat keadaannya, bid’ah itu ada yang tidak disengaja lantaran ada sesuatu kesamaran atau salah pengertian yang berakibat menyalahi Kitab dan Sunnah. Ada juga bid’ah disengaja untuk merusak agama sehingga mengakibatkan kekufuran.

Walaupun dalam periwayatan terdapat sebutan ahli bid’ah, namun yang harus diingat bahwa madzhab bid’ah yang telah kita sebutkan itu bersifat dakwaan atau tuduhan. Maksudnya, golongan atau seseorang yang berpandangan tertentu biasanya akan menerima dakwaan ini dan itu dari golongan lain. Jadi belum tentu seorang rawi yang tertuduh sebagai ahli bid’ah tersebut benar-benar sebagai ahli bid’ah. Hal ini bisa terjadi karena setiap ahli hadits sangat selektif dan ekstra hati-hati dalam menerima suatu riwayat. Apalagi yang berkenaan dengan hukum, maka ia akan membuat kriteria sesuai dengan pandangannya yang akan dijadikan patokan apakah diterima atau ditolak suatu riwayat.

Dalam realita sekarangpun fenomena semacam itu kerap terjadi di sekitar kita. Anda mungkin sering mendengar tuduhan-tuduhan bid’ah, fasik, sesat hingga kufur oleh sekelompok orang tertentu. Namun benarkah orang-orang yang dituduh itu benar-benar telah melakukan aktivitas bid’ah? Hal ini terjadi karena kelompok penuduh itu memiliki pandangan tersendiri yang berbeda dengan yang lain tentang suatu hukum.

Mengenai status periwayatan dari ahli bid’ah apakah diterima atau tertolak, para ulama terbagi dua: Ada yang menerima periwayatannya, dan ada yang menolak. Pendapat yang menolak periwayatan mereka, tentu kita faham, namun pendapat yang menerima riwayat dari ahli bid’ah memerlukan penjelasan. Alasan menerima riwayat dari orang yang dianggap pelaku bid’ah adalah karena tiap-tiap golongan itu biasanya akan mendakwa orang-orang yang tidak satu pandangan dengannya. Dakwaan atau tuduhan yang  berlebihan kadangkala menjatuhkan vonis terhadap pihak lain sebagai ahli bid’ah. Jika dakwaan tersebut diterima secara umum, maka akan muncul vonis fasik hingga mengkufurkan terhadap suatu golongan atau orang. Dengan demikian tuduhan orang lain sebagai ahli bid’ah itu belum tentu benar, bisa benar bisa salah. Sehingga para peneliti hadits yang kritis dan luas pengetahuannya tidak  akan terbawa arus dakwaan tersebut. Selain itu penerimaan riwayat dari ahli bid’ah itupun dengan syarat. Orang yang ditolak riwayatnya ialah orang yang mengingkari perkara-perkara syari’at yang telah mutawatir yaitu telah jelas bahwa perkara tersebut termasuk urusan syari’at agama. Adapun orang yang tidak bersifat demikian serta bersifat dhabit tentang hadits yang ia riwayatkan, memiliki sikap wara’ (hati-hati) dan wala‘ (loyalitas terhadap agama), maka tidak ada halangan untuk menerimanya.

Jadi harus ada upaya penyelidikan terhadap riwayat yang dikatakan dari ahli bid’ah untuk mengetahui riwayat mana yang ditolak dan riwayat mana yang bisa diterima. Setelah ada upaya penelitian terhadap riwayat ahli bid’ah, dan ternyata kandungannya tidak bertentangan dengan syari’at yang mutawatir apakah bisa diterima haditsnya? Di sini perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan ahli bid’ah dalam periwayatan ini adalah rawi yang oleh sebagian ulama menganggap tercacat karena madzhabnya semata, bukan karena celaan seperti dusta, banyak kekaliruan, buruk hafalan, majhul (tidak dikenal), dan sebagainya. Dalam kitab shahih Bukhari  dan Muslim, terdapat banyak rawi yang dituduh sebagai ahli bid’ah, namun setelah diselidiki ternyata tuduhan itu kebanyakan tidak benar, dan sebagiannya tidak dapat dimasukkan dalam golongan orang yang mesti ditolak periwayatannya.

Contohnya seperti Ali bin Abi Hasyim bin Thairakh al-Baghdadi, dia seorang rawi dari Bukhari yang benar, tapi berpendirian waqf[1] terhadap al Qur’an. Apakah terhadap orang yang sudah dikenal benar dan hanya karena dia tawaqquf tentang kejadian Qur’an, maka riwayatnya dianggap lemah dan ditolak?

Hariz bin Utsman seorang rawi Bukhari yang dikenal memiliki kepercayaan tetapi tertuduh bermadzhab Nashb. Maka Abu Hatim membelanya dan berkata, ” … dan tidak syah di sisiku orang yang mengatakan bahwa ia bermadzhab Nashb“. Dan nyatalah bahwa tuduhan tidak benar. Kehati-hatian sikap seperti ini juga berlaku pada pernyataan tentang keaiban rawi.

[1] Yaitu tidak mengatakan apakah Qur’an itu makhluq atau bukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: