Istilah Sunnah Dalam Pandangan Para Ulama

27 Mei

Para ulama fiqh Hanafiyah dan Syafi’iyah berbeda dalam memberikan pengertian sunnah. Menurut ulama Hanafiyah, yang dikatakan sunnah adalah, “Sesuatu yang diberi pahala orang yang mengerjakannya, tidak disiksa orang yang meninggalkannya”.[1]

Kemudian ulama Hanafiyah membagi perbuatan yang disuruh dengan tidak difardlukan dan diwajibkan dengan: sunnah huda dan sunnah zaidah.

Sunnah huda atau disebut juga sunnah muakkadah, adalah sesuatu yang dilaksanakan untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama, seperti azan dan jama’ah. Orang yang tidak mengerjakan sunnah ini mendapat cela dan dipandang sesat.

Sedangkan sunnah za-idah adalah, segala urusan adat kebiasaan yang dilaksanakan oleh Nabi saw. Seperti urusan makan, minum, cara berpakaian, tidur, dan sebagainya. Karenanya sunnah ini dipandang sebagai pelengkap, lantaran orang yang meninggalkannya tidak dipandang sebagai berdosa. Istilah sunnah zaidah ini juga sering disebut dengan mandub, mustahab, adab dan fadhilah.

Sedangkan ulama Syafi’iyah membagi sunnah kepada dua bagian yaitu sunnah muakkadah dan sunnah ghairu muakkadah.

Sunnah muakkadah adalah hal-hal yang dikerjakan secara tetap oleh Nabi saw, yaitu yang tidak diberatkan kita mengerjakannya, seperti sunnah rawatib dan sunnah shubuh.

Kemudian sunnah ghairu muakkadah adalah hal-hal yang tidak difardlukan dan tidak dikerjakan Nabi saw secara tetap, seperti shalat sunnat sebelum maghrib dan sebelum isya’.

Dalam pembahasan ilmu fiqh akan kita dapati istilah yang sepadan dengan sunnah yaitu mandub, mustahab, tathawwu’, nawafil, serta marghub fih. Di sinilah letak perbedaan antara pembahasan fiqhiyah dengan pembahasan pada wilayah periwayatan.

Lalu bagaimana merangkum pengertian sunnah yang masih luas itu dalam satu makna yang telah disepakati oleh para ulama?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu tentang spesifikasi ulama. Sebab kita mengenal ada ulama fiqh, ulama ushul dan ulama hadits. Masing-masing ulama tersebut berkepentingan dalam bidangnya, sehingga ada titik tekan tertentu yang menjadikan adanya perbedaan dalam mendefinisikan sunnah, namun esensinya sama yaitu tetap menyandarkan kepada Nabi saw, dan pembahasannya berporos kepada beliau.

Para ulama fiqh membahas pribadi Nabi saw sebagai seorang yang seluruh perbuatannya, perkataannya menunjuk kepada suatu hukum syar’i. Menurut ulama fiqh (fuqaha) sunnah adalah, “Sesuatu yang diterima dari nabi saw dengan tidak difardlukan, tidak diwajibkan“. Jadi ia merupakan salah satu dari hukum taklifiyah yang lima, yaitu: Wajib, Sunah, Haram, Makruh dan Mubah, yang mana semua hukum tersebut menyandarkan kepada Nabi saw. Di sini sesuatu yang dituntut kepada kita untuk mengerjakannya dengan tidak diberatkan, mereka menamakan sunnah.

Sunnah menurut para ulama ushul (ushuliyin), “Apa-apa yang datang dari Nabi saw selain Al Qur’an berupa perkataan atau perbuatan atau taqrir (persetujuan)“.

Para ulama ushul menjadikan sunnah sebagai pedoman untuk membuat kaidah-kaidah hukum syar’i. Mereka membahas pribadi nabi saw sebagai pengatur undang-undang yang akan menjadi landasan ijtihad bagi para mujtahidin yang datang sesudahnya, dan menerangkan kepada umat dustur kehidupan. Karena itu mereka memperhatikan segala ucapan Nabi saw, perbuatan dan taqrirnya yang berkaitan dengan penetapan hukum saja. Sehingga ada definisi lagi dari mereka, yaitu “Segala perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi saw, yang bersangkutan dengan hukum“.

Ada pun definisi menurut ulama hadits (muhaditsin) membahas pribadi Nabi saw sebagai orang yang dijadikan uswah hasanah bagi umat. Maka mereka memaknai sunnah sebagai segala yang berpautan dengan Nabi saw, baik mengenai riwayat perjalanannya, budi pekertinya, keutamaannya, keistimewaannya, sabdanya, perbuatannya dan hal ihwal tentangnya; baik mewujudkan hukum syar’i atau pun tidak

[1] Ta’rif ini lahir dalam abad kedua Hijrah bersama-sama dengan kelahiran ilmu fiqh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: