KAIDAH MEMAHAMI AS-SUNNAH

17 Okt

Pertama, sesuai dengan petunjuk al qur’an, sebab ia (al qur’an) adalah konstitusi dasar yang kepadanya bermuara segala perundang-udangan Islam, sedangkan as-sunnah adalah penjelas, perinci dan penguat kostitusi dasar tersebut baik yang bersifat teoritis maupun penerapan praktisnya. Sehingga tidaklah mungkin as-sunnah bertentangan dengan sumbernya (al qur’an), dengan kata lain bahwa segala penjelasan dari Nabi saw senantiasa berkisar pada al qur’an dan tidak mungkin melanggarnya. Sehingga tidak dimungkinkan ada hadis shahih yang kandungannya berlawanan dengan ayat al qur’an yang muhkamat (maknanya jelas dan pasti), namun jika ada hadis yang dianggap bertentangan maka bisa jadi hadis tersebut tidak shahih, atau pemahaman kita yang tidak tepat atau “pertentangan” tersebut hanyalah bersifat semu dan bukan hakiki (sebenarnya).

Kedua, menghimpun hadis-hadis yang berkaitan ke dalam satu tema atau satu permasalahan, selanjutnya pemahamannya dikaji dengan  mengembalikan kandungan hadis yang mutasyabih (samar) kepada yang muhkam (jelas), mengaitkan yang muthlaq (mutlak) dengan yang muqayyad (bersyarat) dan menafsirkan yang ‘am (bersifat umum) dengan yang khash (khusus). Dengan demikian akan menjadi jelas maksudnya dan tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan lainnya.

Ketiga, mentarjih hadis-hadis yang tampak bertentangan.

Sesungguhnya nash-nash syari’at itu tidak mungkin saling bertentangan, namun jika tampak bertentangan bisa digabung atau disesuaikan dengan tanpa mengada-ada atau paksaan, sehingga keduanya bisa diamalkan, maka hal ini lebih utama daripada mentarjihnya. Sebab mentarjih itu mengutamakan nash yang satu terhadap yang lain sehingga akan mengakibatkan terabaikannya nash yang lainnya. Maka sebaiknya penggabungan lebih didahulukan sebelum pentarjihan. Adapun dalam hadis-hadis itu terdapat beberapa keadaan yaitu, untuk hadis yang telah disepakati keshahihannya maka maka tidak perlu dipertentangkan, kemudian untuk hadis-hadis yang disepakati kelemahannya (dha’if) tidak baik untuk diambil, sedangkan untuk hadis-hadis yang diperselisihkan maka menunggu pendapat para ahli ilmu hadis, kemudian memilih mana yang paling shahih di antara semua pendapat tersebut.

Keempat, mempertimbangkan latar belakang dan kondisi ketika diucapkan serta tujuannya (asbab al-wurud).

Suatu hadis itu kadang diucapkan berkaitan dengan kondisi temporer khusus demi maslahat yang diharapkan atau mudharat yang akan dihindarkan atau mengatasi problem yang muncul saat itu. Dengan demikian adakalanya suatu hukum yang dibawa oleh suatu hadis itu tampak ada yang bersifat umum dan adakalanya terkait waktu tertentu atau alasan (‘illah) tertentu sehingga hukumnya tergantung ‘illah-nya. Berbeda dengan al qur’an,  as sunnah itu muncul untuk menangani problematika umat yang bersifat lokal (maudhu’i), partikular (juz’i) adakalanya temporal, dan ada yang bersifat khusus dan rinci yang tak di dapati dalam al qur’an sebagaimana kita lihat dalam rincian tata cara ibadah shalat, haji, dsb yang tidak kita dapati di dalam ayat al qur’an.

Kelima, membedakan sarana yang berubah dan sasaran yang tetap.

Adakalanya as sunnah memiliki tujuan atau sasaran yang hendak dicapai lalu diberitahukan tentang sarana untuk itu. Dalam hal ini yang tidak akan berubah adalah tujuan hakikinya, sementara sarana dan prasarana bisa saja berubah sesuai lingkungan dan zamannya. Jika di dalam al qur’an surat al anfal ayat 60 disebutkan: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya..”, maka pada zaman sekarang persiapan itu bisa berupa sarana dan prasarana yang lain, demikian juga dalam muatan beberapa hadis tertentu, misalnya tentang siwak , pengobatan dengan berbekam, al habbah as-saudda’ (jintan hitam). Begitu juga dengan hadis, “hendaknya engkau gunakan al- ‘ud al-hindy (sejenis kayu dari india) sebab ia mengandung tujuh macam kesembuhan..” (HR Al Bukhari dari Ummu Qais – shahih al-jami’ ash-shaghir). Adapun tujuan hakikinya adalah agar manusia menjaga kesehatannya, berobat tatkala sakit dengan tidak bertentangan dengan keimanan kepada takdir ataupun tawakal kepada Allah swt. Selain itu ada pesan bahwa setiap penyakit ada obatnya, adanya sunah kauniyah bahwa suatu penyakit itu bisa menular, dan seterusnya.

Keenam, membedakan makna sebenarnya dan makna majaz.

Rasul saw adalah seorang yang berbahasa arab dan paling menguasai balaghah. Ucapannya bagian dari wahyu, dalam sabda-sabdanya banyak menggunakan majaz (berbagai ungkapan yang tidak menunjukkan makna sebenarnya secara langsung) yang mengungkap maksud beliau dengan cara yang mengesankan. Untuk bisa memahami keadaan demikian maka yang tidak boleh dilupakan adalah keharusan untuk berhati-hati dan menahan diri dari sikap berlebihan dalam penakwilan suatu hadis, agar selamat dari keterjerumusan.

Ketujuh, membedakan antara alam ghaib dan alam kasat mata.

Hadis-hadis maqbul yang berkaitan dengan alam ghaib seperti kehidupan jin syetan, malaikat, alam kubur, keadaan ash-shirat, situasi mahsyar, mizan, keadaan surga, neraka dsb., maka sikap mukmin adalah percaya serta mengimaninya dan tidak membenturkannya dengan akal yang mana domainnya adalah dunia atau alam nyata. Seorang mukmin tidak selayaknya menyibukkan diri dengan pembahasan-pembahasan yang dilingkupi oleh kemusykilan-kemusykilan, sebab hal ini tidak akan mendatangkan kematangan beragama, kecuali pengkajian yang hanya sekedar mencukupi kebutuhan saja. Adapun yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan senantiasa memohon karuniaNya serta apa saja yang dapat mendekatkan diri kepadaNya. Sikap demikian akan menjadikan mukmin berperilaku selayaknya ahli surga dan menjauhkan diri dari perilaku ahli neraka. Allah swt memang tidak melengkapi manusia dengan kemampuan menyingkap alam ghaib karena memang tidak diperlukan dalam menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi.

Kedelapan, memastikan makna dan konotasi kata-kata dalam hadis.

Adalah penting memastikan makna dan konotasi kata-kata yang digunakan dalam susunan kalimat hadis, sebab konotasi kata-kata tertentu adakalanya berubah dari suatu masa ke masa berikutnya atau dari suatu lingkungan ke lingkungan lainnya. Ada istilah-istilah syari’at yang digunakan pada zaman sekarang berbeda dengan generasi salaf seperti fiqh, ‘ilmu, tauhid, tadzkirah, hikmah dsb yang pada awalnya adalah nama-nama yang terpuji disandang oleh orang terpuji pemegang jabatan agama, penjaga dan pencerah manusia dengan lisan, tulisan dan perilakunya, seiring dengan perkembangan peradaban mengalami distorsi yang lebih dominan untuk konsep-konsep baru yang diciptakan kemudian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: